Anda membutuhkan seorang protagonis yang kuat. Kebanyakan penulis mengalami kesulitan menciptakan karakter yang lebih besar dari hidup, dikembangkan secara penuh, dan seorang protagonis yang konsisten.
Ingat, protagonis adalah karakter utama cerita Anda. Ia adalah orang yang para pembaca akan mengidentifikasikan diri mereka dengannya. Anda ingin pembaca Anda peduli dengan protagonis Anda. Ia adalah sahabat baru Anda sekarang.
Bersambung…
Diterjemahkan dari artikel “How to write a novel in 100 days or less” karya John Coyne. www.peacecorpswriters.org
Pembaca harus percaya bahwa karakter Anda benar-benar ada atau mungkin ada—dan mereka harus digambarkan secara berbeda. Dan tidak ada cara yang lebih baik dalam mendefinisikan karakter selain tindakan mereka, tujuan mereka dalam hidup. Tujuan mereka bisa baik atau buruk. Hal itu tidak menjadi soal. Yang paling penting adalah pembaca melihat tindakan dan tujuan mereka, mempercayai mereka, dan terus-menerus merasa tertarik dengan mereka.
Jangan menulis cerita yang berisi ribuan orang. Tulis cerita tentang satu, dua, atau tiga karakter yang mudah diingat, dan semuanya memiliki tujuan.
Bersambung…
Diterjemahkan dari artikel “How to write a novel in 100 days or less” karya John Coyne. www.peacecorpswriters.org
Kembangkan karakter dan plot Anda secara bersama-sama. Anda tidak bisa melakukan yang satu dengan baik tanpa yang lain. Karakter Anda bukanlah orang-orangan kayu yang jatuh begitu saja dari langit. Mereka adalah unsur penting drama yang Anda buat. Mereka harus melakukan sesuatu yang logis atau tidak logis (yang menjadi inti plot) yang akan menambah cerita Anda, dan membawanya menuju klimaks. Jangan pernah, jangan pernah memisahkan karakter dari plot.
Bersambung…
Diterjemahkan dari artikel “How to write a novel in 100 days or less” karya John Coyne. www.peacecorpswriters.org
By Theodora Landgren, Founder and Managing Director of A2Z Global Inc. Haddon Township, NJ, USA tlandgren [at] a2zglobal.com http://a2zglobal.ipower.com/
After numerous meetings, conference calls, and strategy sessions, your company has decided to go “global”. Or at least the website! Before you run out and hire a globalization agency to help with the process, you need to prepare. It’s a big deal and let’s face it – you’ve never done it before. Don’t worry, you’re not alone.
Though web production has matured rapidly over the years, the practice of web globalization is still very much in its infancy.
Although nearly every American corporation now has a web presence, less than 15% offer more than one language. With so few examples to draw upon, and few established standards to reference, the assignment of planning a multilingual site can appear a daunting and overwhelming one.
Oleh Danilo Nogueira danilo.tradutor [at] gmail.com
dan
Kelli Semolini kellitrad [at] gmail.com
Brazil
There is no such a thing as perfect translation-and even if there were, we could not be sure it would satisfy the average client or critic. But we have been looking for ways to improve the quality of our translations and we would like to share a few of our findings with you. This is not a How to Become a Perfect Translator in 12 Easy Steps sort of thing, but some of the suggestions may make you think-or perhaps smile, who knows.
Avoid Rework
Let's begin with trying to do things right the first time. Editing and revising are tricky, treacherous and time-consuming tasks. So, try to translate each phrase as if the translation were to be published on real time. The fewer points go into the "later" box, the smaller the chance they will pass unnoticed during editing and proofrea... Read more »
Kebanyakan novel ditulis berdasarkan sebuah rumus, terutama buku laris besar. Sebagai contoh, John Baldwin, salah seorang penulis The Eleventh Plague: A Novel of Medical Terror, mengembangkan sebuah rumus sederhana yang ia gunakan untuk membuat struktur novelnya.
Rumus sepuluh langkahnya adalah: 1. Pahlawannya harus seorang yang ahli. 2. Penjahatnya harus seorang yang ahli. 3. Anda harus melihat kejahatan dari sudut pandang sang penjahat. 4. Pahlawannya memiliki pendukung sekelompok ahli di berbagai bidang. 5. Dua atau lebih anggota tim harus jatuh cinta. 6. Dua atau lebih anggota tim harus mati. 7. Penjahatnya harus mengubah perhatiannya dari sasaran awalnya kepada tim. 8. Penjahat dan pahlawannya harus hidup untuk bertarung kembali pada sekuel lanjutannya. 9. Semua kematian harus dimulai dari individu kepada kelompok: misalnya, j... Read more »
Ambil setumpuk kartu berukuran 5x7 dan tulis masing-masing nama karakter Anda di bagian atasnya. Lalu, pikirkan peranan apa yang akan dimainkan mereka dalam cerita Anda, tipe orang seperti apa mereka: usia, pendidikan, tempat kelahiran, keras kepala, lucu, gemuk, jelek. Apa kebiasaan unik mereka? Apakah mereka biasa mencuci tangannya 500 kali sehari? Apakah mereka suka mendengar suara-suara aneh? Apakah mereka baik hati terhadap anak-anak namun senang menyiksa kucing? Tuliskan semuanya, tuliskan sebanyak-banyaknya sampai Anda mulai mengenal masing-masing karakter tersebut secara mendalam. Alfred Hitchcock biasa menuliskan adegan ceritanya pada kartu indeks, satu adegan dalam satu kartu. Dengan cara itu, sebagaimana yang dikatakannya, saat ia mulai membuat film, pekerjaannya sudah selesai.
Beberapa dari karakter tersebut akan menjadi tokoh utama, di mana ceritanya akan berkisar di sekitar mereka; kara... Read more »
Pertama-tama, tentukan karakter/tokoh cerita Anda, karena karakter jauh lebih sulit ditentukan daripada ceritanya.
Saat menulis, plot cerita bisa berubah atau tetap sama, namun karakternya akan berkembang dan memiliki kehidupan sendiri. Saat karakter Anda berkembang, mereka akan memiliki kepribadian yang berbeda, dan sama seperti seorang sahabat, Anda akan tahu apa yang akan mereka lakukan atau tidak lakukan pada situasi tertentu.
Penulis cerita misteri Oakley Hall mengatakan, seorang penulis harus “mendengarkan tuntutan atau keinginan karakternya, yang ketika mulai hidup, bisa menuntut jalan hidup yang berbeda dari yang dibutuhkan pada awalnya.
Bersambung…
Diterjemahkan dari artikel “How to write a novel in 100 days or less” karya John Coyne. www.peacecorpswriters.org
Mulailah dengan menulis sesuatu yang Anda tahu, jika bukan tentang novelnya sendiri, maka sesuatu tentang tempat atau orang di novel Anda. Akan jauh lebih mudah memulai penulisan buku jika Anda menulis tentang orang-orang, tempat, dan sesuatu yang telah Anda kenal baik.
Bersambung…
Diterjemahkan dari artikel “How to write a novel in 100 days or less” karya John Coyne. www.peacecorpswriters.org
Sebelum kita beranjak dari persoalan menemukan cerita untuk Anda, izinkan saya membongkar satu klise lain tentang penulisan novel: Tulislah sesuatu yang Anda tahu.
Anda pasti pernah mendengarnya sebelumnya. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Tom Clancy tidak pernah menjadi komandan kapal selam sebelum ia menulis novel The Hunt For Red October. Dan saya berani bertaruh bahwa Richard Bach belum pernah menjadi burung camar (seagull) sebelum ia menulis cerita Jonathan Livingston Seagull.
Daripada menulis sesuatu yang Anda tahu, Anda bisa mencoba menulis sesuatu yang Anda sukai. Topiknya bisa apa saja, tapi Anda menyukainya. Sebagai contoh, Arthur Golden, penulis Memoirs of a Geisha, pernah tinggal di Jepang dan bekerja di majalah berbahasa Inggris di Tokyo saat pada tahun 1982 ia mendapat ide menulis novel Memoirs. Pada tahun 1986, setelah meraih gelar dalam bidang penulisan kreatif dari Universitas Bos... Read more »