Kumpulan Puisi Chairil Anwar - 12 August 2009 - Blog - Kanal Penerjemah, Lowongan Penerjemah, Translation Jobs
Friday, 30-07-2010, 05:59:43
Welcome Guest | RSS
KIRIM SMS GRATIS!
>
Customer Service
Calendar
«  August 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
Entries archive
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Kanal Penerjemah on Facebook
Login form
E-mail:
Password:
Situs Penerjemah/Biro Penerjemah Anggota Platinum Kanal Penerjemah
  • Indies Translation

  • Main » 2009 » August » 12 » Kumpulan Puisi Chairil Anwar
    09:15:25
    Kumpulan Puisi Chairil Anwar
    DERAI DERAI CEMARA

    Cemara menderai sampai jauh
    terasa hari akan jadi malam
    ada beberapa dahan di tingkap merapuh
    dipukul angin yang terpendam

    Aku sekarang orangnya bisa tahan
    sudah berapa waktu bukan kanak lagi
    tapi dulu memang ada suatu bahan
    yang bukan dasar perhitungan kini

    Hidup hanya menunda kekalahan
    tambah terasing dari cinta sekolah rendah
    dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
    sebelum pada akhirnya kita menyerah

    1949

    SENJA DI PELABUHAN KECIL
    buat: Sri Ajati

    Ini kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
    menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

    Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
    dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

    1946

    CINTAKU JAUH DI PULAU

    Cintaku jauh di pulau,
    gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar,
    di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
    angin membantu, laut terang, tapi terasa
    aku tidak 'kan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu,
    di perasaan penghabisan segala melaju
    Ajal bertakhta, sambil berkata:
    "Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
    Perahu yang bersama 'kan merapuh!
    Mengapa Ajal memanggil dulu
    Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau,
    kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

    1946

    AKU BERADA KEMBALI

    Aku berada kembali. Banyak yang asing:
    air mengalir tukar warna,kapal kapal,
    elang-elang
    serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

    rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
    juga disinari matari lain.

    Hanya
    Kelengangan tinggal tetap saja.
    Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
    lebih lengang pula ketika berada antara
    yang mengharap dan yang melepas.

    Telinga kiri masih terpaling
    ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
    seterang
    guruh

    1949

    TJERITA BUAT DIEN TAMAELA

    Beta Pattiradjawane
    jang didjaga datu datu
    Tjuma satu

    Beta Pattiradjawane
    kikisan laut
    berdarah laut

    beta pattiradjawane
    ketika lahir dibawakan
    datu dajung sampan

    beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
    beta api dipantai,siapa mendekat
    tiga kali menjebut beta punja nama

    dalam sunyi malam ganggang menari
    menurut beta punya tifa
    pohon pala, badan perawan djadi
    hidup sampai pagi tiba

    mari menari !
    mari beria !
    mari berlupa !

    awas ! djangan bikin bea marah
    beta bikin pala mati, gadis kaku
    beta kirim datu-datu !

    beta ada dimalam, ada disiang
    irama ganggang dan api membakar pulau .......

    beta pattiradjawane
    jang didjaga datu-datu
    tjuma satu

    KARAWANG BEKASI

    Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
    Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
    Terbayang kami maju dan berdegap hati?
    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
    Kenang, kenanglah kami
    Kami sudah coba apa yang kami bisa
    Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
    Kami sudah beri kami punya jiwa
    Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
    Kami cuma tulang-tulang berserakan
    Tapi adalah kepunyaanmu
    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
    Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
    Atau tidak untuk apa-apa
    Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kenang-kenanglah kami
    Menjaga Bung Karno
    Menjaga Bung Hatta
    Menjaga Bung Syahrir
    Kami sekarang mayat
    Berilah kami arti
    Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
    Kenang-kenanglah kami
    Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
    Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

    DIPONEGORO

    Di masa pembangunan ini
    tuan hidup kembali
    Dan bara kagum menjadi api

    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselempang semangat yang tak bisa mati.

    MAJU

    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu.

    Sekali berarti
    Sudah itu mati.

    MAJU

    Bagimu Negeri
    Menyediakan api.

    Punah di atas menghamba
    Binasa di atas ditindas
    Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai

    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang

    Februari 1943

    PRAJURIT JAGA MALAM

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
    Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
    bermata tajam
    Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
    kepastian
    ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
    Aku suka pada mereka yang berani hidup
    Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
    Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

    1948

    PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

    Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
    Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
    dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
    Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
    Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
    Aku sekarang api aku sekarang laut

    Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
    Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
    Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

    1948

    YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

    Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
    menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
    malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

    Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

    Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
    dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
    tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

    Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

    1949

    AKU

    Kalau sampai waktuku
    'Ku mau tak seorang kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang

    Luka dan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang pedih peri

    Dan aku akan lebih tidak perduli

    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    Maret 1943

    DOA
    kepada pemeluk teguh

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namamu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh

    cayaMu panas suci
    tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku
    aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku
    aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    di pintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling

    13 November 1943

    SAJAK PUTIH
    buat tunanganku Mirat

    Bersandar pada tari warna pelangi
    kau depanku bertudung sutra senja
    di hitam matamu kembang mawar dan melati
    harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    meriak muka air kolam jiwa
    dan dalam dadaku memerdu lagu
    menarik menari seluruh aku

    hidup dari hidupku, pintu terbuka
    selama matamu bagiku menengadah
    selama kau darah mengalir dari luka
    antara kita Mati datang tidak membelah...

    Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
    dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
    Kucuplah aku terus, kucuplah
    dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

    1944

    *sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya

    DENGAN MIRAT

    Kamar ini jadi sarang penghabisan
    di malam yang hilang batas

    Aku dan engkau hanya menjengkau
    rakit hitam

    'Kan terdamparkah
    atau terserah
    pada putaran hitam?

    Matamu ungu membatu

    Masih berdekapankah kami atau
    mengikut juga bayangan itu

    1946

    MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA

    Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
    menatap lama ke dalam pandangnya
    coba memisah mata yang menantang
    yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

    Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
    dan bertanya: Adakah, adakah
    kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
    Mirat raba urut Chairil, raba dada
    Dan tahulah dia kini, bisa katakan
    dan tunjukkan dengan pasti di mana
    menghidup jiwa, menghembus nyawa
    Liang jiwa-nyawa saling berganti.
    Dia rapatkan

    Dirinya pada Chairil makin sehati;
    hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
    Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
    menuntut tinggi tidak setapak berjarak
    dengan mati

    -di pegunungan 1943, ditulis 1949

    MALAM DI PEGUNUNGAN

    Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
    Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
    Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
    Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

    1947

    PENERIMAAN

    Kalau kau mau kuterima kau kembali
    Dengan sepenuh hati

    Aku masih tetap sendiri

    Kutahu kau bukan yang dulu lagi
    Bak kembang sari sudah terbagi

    Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

    Kalau kau mau kuterima kembali
    Untukku sendiri tapi

    Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

    Maret 1943

    HAMPA
    kepada sri

    Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
    Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
    Sampai ke puncak. Sepi memagut,
    Tak satu kuasa melepas-renggut
    Segala menanti. Menanti. Menanti.
    Sepi.
    Tambah ini menanti jadi mencekik
    Memberat-mencekung punda
    Sampai binasa segala. Belum apa-apa
    Udara bertuba. Setan bertempik
    Ini sepi terus ada. Dan menanti.

    RUMAHKU

    Rumahku dari unggun-unggun sajak
    Kaca jernih dari segala nampak

    Kulari dari gedung lebar halaman
    Aku tersesat tak dapat jalan

    Kemah kudirikan ketika senjakala
    Dipagi terbang entah kemana

    Rumahku dari unggun-unggun sajak
    Disini aku berbini dan beranak

    Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
    Aku tidak lagi meraih petang
    Biar berleleran kata manis madu
    jika menagih yang satu

    April 1943

    NISAN

    Bukan kematian benar menusuk kalbu
    Keridhaanmu menerima segala tiba
    Tak kutahu setinggi itu di atas debu
    Dan duka maha tuan tak bertahta.

    MALAM

    Mulai kelam
    belum buntu malam
    kami masih berjaga
    --Thermopylae?-
    - jagal tidak dikenal ? -
    tapi nanti
    sebelum siang membentang
    kami sudah tenggelam hilang
    [i]

    Views: 438 | Added by: kanalku | Rating: 2.5/6
    Total comments: 0
    Name *:
    Email:
    Code *: